Type Here to Get Search Results !

Pembunuhan Berencana Smartphone

Loutfiena 0

Saya melihat pola yang sama hampir disetiap produksi smartphone. Saya lahir di jaman ponsel masih menggunakan layar kalkulator, dengan satu sim, dan satu sinyal. Hidup mereka panjang, dengan ponsel yang sama bisa hidup sampai 20 tahun. Hingga tibanya sinyal 3G yang memadai di tahun 2010. Tapi tidak dengan smartphone. kurang dari 5 tahun sudah bisa mati atau dimatikan. 


Tidak Ada Update

Waktu pemakaian awal selalu normal, tapi suatu saat akan terjadi masalah. Masalah yang bersumber dari sebuah aplikasi akan mudah diperbaiki jika developer masih mengembangkan aplikasi tersebut. Namun jika masalah terjadi pada sistem android yang mana dipegang oleh produsen, tapi produsen tersebut tidak peduli maka tamatlah smartphone itu.


Memang ini menjadi strategi dagang mereka. Hanya menjual device tapi tidak memelihara sistem. Sehingga user harus membeli baru jika masih ingin menggunakannya. Hal yang sama juga terjadi pada aplikasi. Ketika developer menghentikan aplikasi mereka di OS versi lawas, dan smartphone user tidak bisa upgrade OS, terpaksa harus membeli device baru agar bisa menggunakan aplikasi mereka.


Para Sesepuh Pensiun

Keberlangsungan sebuah device setelah produsen mematikan produk mereka adalah dari komunitas. Ini penting untuk mendapatkan dukungan dan pertolongan, ketika smartphone mengalami suatu error. Produsen sebenarnya tidak peduli dengan user, tapi developer-lah yang menanggapi user. Suatu saat tibalah waktu "pensiun" untuk anggota komunitas yang sudah sepuh (master), mereka berhenti merawat smartphone ini.


Pusat Menghentikan Layanan Sistem

Untuk melakukan unlock bootloader, yang bertujuan agar bisa instal ulang OS android, sering kali membutuhkan ijin dari server. Seiring jalannya waktu, ada sebuah evolusi dari produsen smartphone dengan menggunakan teknologi yang lebih canggih. Bertujuan agar device produksi mereka tidak mudah dijebol. Hal tersebut dibuat sangat rumit, karena membutuhkan biaya yang banyak maka dukungan untuk device lawas dimatikan agar tidak membebani server. Dengan demikian device lawas tidak bisa UBL, jika terjadi masalah pada device sulit diperbaiki oleh user secara mandiri.


Hal seperti ini bisa ditolong oleh komunitas device tersebut, atau jika produsen menyediakan backdoor fisik pada unit device.


Sparepart Tidak Diproduksi Lagi

Smartphone lawas, siapa yang pakai? Dilihat dari kebutuhan dan keinginan user membuat produsen enggan mengeluarkan sparepart untuk produk mereka. Belum lagi teknologi yang berkembang cepat dipikir rugi jika dibuatkan sparepart. Dan mereka memaksa user untuk membeli produk baru. Tidak peduli, jika smartphone murah yang mana tidak masuk akal dengan biaya servis, atau smartphone mahal dengan harga sparepart-nya yang seharga smartphone murah keluaran terbaru!


Diproduksi Untuk Jangka Pendek

Ini terjadi pada kelas low-end atau spek rendah, sudah tidak mendapatkan upgrade OS. Jika aplikasi update dan membutuhkan spek yang lebih tinggi maka tamat sudah device itu. Sialnya produsen memproduksi smartphone seperti ini tiap tahun, hanya beda modelnya saja.


Jangan salah smartphone yang high-end tidak terlepas dari itu, menurut saya mereka hanya menjual kemewahan, yang asli penggunaannya biasa saja seperti halnya device low-end, ya komunikasi, foto, browsing internet, dan untuk pamer saja. Tapi apa yang terjadi pada user? ya, geber gas pol! Akhirnya tumbang itu device. Itu semua mereka pancing dengan iklan yang heboh sendiri, seperti berenang sambil main hp, main game 24jam, foto saat melakukan aktivitas ekstrim, dsb


Semua dibuat dengan perhitungan matang, agar device tersebut dapat rusak dalam waktu singkat atau ditinggalkan oleh user-nya. Tujuannya agar perusahaannya bisa tetap hidup, dan terjadi sebuah siklus. Sehingga teknologi, desain, dan kebutuhan berjalan dan terus berkembang.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Show ad in Posts/Pages